Beberapa hari lagi, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2016 insyaallah akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT) yang dianggap oleh kebanyakan masyarakat Indonesia sebagai peristiwa menarik dan sangat dinantikan. Gerhana Matahari Total akan terjadi di sebagian besar Pasifik, meliputi Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara dan benua Australia. Diantara kota-kota di Indonesia yang akan dilewati Gerhana Matahari Total adalah Palembang, Belitung, Balikpapan, Sampit, dan beberapa kota lain. Sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak akan dilewati gerhana matahari total (GMT), akan tetapi hanya gerhana matahari sebagian (GMS).

Gerhana matahari terjadi ketika matahari, bulan, dan bumi pada saat yang bersamaan berada pada satu garis. Ketika gerhana matahari terjadi, bulan berada di antara bumi dan matahari, sehingga piringan bulan akan menutupi piringan matahari. Bulan berada di antara bumi dan matahari saat sedang berada pada fase Bulan Baru.

Peristiwa yang akan terjadi ini sudah banyak dilansir oleh media secara luas yang melihatnya dari perspektif kebanyakan orang; yaitu menganggap Gerhana Matahari Total sebagai peristiwa unik yang perlu ditonton. Akan tetapi bagi umat Islam, setiap terjadi peristiwa penting seperti gerhana matahari, mereka seharusnya mempunyai cara penyikapan yang benar dan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.


Bila kita lihat, setidaknya ada tiga sikap yang mungkin dilakukan oleh masyarakat terhadap peristiwa seperti Gerhana Matahari:

Sikap yang pertama; bersikap apatis dan tidak mempedulikan peristiwa tersebut.

Sikap yang kedua; menganggapnya sebagai peristiwa alam yang unik untuk menjadi tontonan.

Dan sikap yang ketiga; mempercayai berbagai kepercayaan mistik dan mengaitkan nya dengan gerhana matahari.

Tentunya, ketiga cara penyikapan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam karena tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Insyaallah dalam artikel ini akan disampaikan hal-hal penting yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyikapi peristiwa gerhana matahari tersebut. 

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan oleh setiap muslim terkait peristiwa gerhana matahari adalah: mentadabburi kebesaran dan kekuasaan Allah subhanahu wataala.

Matahari dan bulan merupakan dua makhluk Allah yang sangat akrab dalam pandangan. Peredaran dan silih bergantinya dua makhluk tersebut dengan begitu teraturnya merupakan ketetapan aturan Allah subhanahu wataala Penguasa alam semesta ini.

 Allah subhanahu wataala berfirman:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
”Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (Q.S. Ar-Rahman: 5)

Maka semua yang menakjubkan dan luar biasa pada matahari dan bulan menunjukkan keagungan dan kebesaran serta kesempurnaan Penciptanya. Dengan melihat peristiwa unik tersebut, seharusnya akan menguatkan dan menebalkan keyakinan kita kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Agung, karena landasan utama agama Islam adalah kemurnian tauhid dengan mengimani dan mengagungkan Allah, termasuk dalam menjelaskan fenomena alam seperti gerhana.

Allah subhanahu wataala dalam berbagai ayat menegaskan bahwa Ia telah memperlihatkan tanda-tanda keagungan dan kekusaan-Nya, maka hendaklah kita menjadikannya sebagai sarana untuk menguatkan iman dan tidak berpaling atau mengacuhkannya. Allah subhanahu wataala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ في السَّمواتِ وَالأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lewati, sedang mereka berpaling dari padanya.” (Q.S Yusuf: 105)

Allah subhanahu wataala juga berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (Q.S. Fushshilat: 37)

Yang Kedua, tidak mengaitkan peristiwa gerhana matahari dengan kepercayaan mistik yang tidak berdasar dan tidak diajarkan dalam Islam. Islam adalah agama yang membebaskan manusia dari kungkungan takhayyul dan khurafat yang kontra produktif terhadap perkembangan peradaban manusia. Kepercayaan-kepercayaan yang tidak logis hanya akan melemahkan masyarakat karena membuat mereka takut, khawatir dan mewaspadai sesuatu yang tidak wujud dan tidak rasional.

Dalam konteks gerhana matahari, hal seperti diatas pernah terjadi dikalangan beberapa beberapa orang shahabat di zaman Nabi. Pada tahun 10 Hijriyyah, putra Rasulullah shallallahu alaihi wasalla yang bernama Ibrahim meninggal dunia ketika masih berusia 18 bulan. Disaat yang sama, terjadilah gerhana matahari. Maka sebagian kaum muslimin kemudian mengaitkan peristiwa gerhana matahari tersebut dengan wafatnya putra Nabi. Mengetahui hal tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam segera mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh beberapa orang shahabat tersebut dengan bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لَحِيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْعُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena lahirnya seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (H.R. al-Bukhari  no. 1043, dan Muslim no. 915)

Yang ketiga; mengingat Allah subhanahu wataala, berdoa dan beristighfar.
Mengingat kepada Allah subhanahu wataala bisa dilakukan dalam beberapa tingkatan :

Yang pertama; melakukan shalat kusuf sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh shahabat Abu Bakrah, beliau berkata:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْكَسَفَتِ الشَّمْسُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَدَخَلْنَا فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ حَتَّى انْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

"Kami pernah bersama Rasul kemudian terjadi gerhana matahari,
maka kemudian Rasul berdiri menarik kainnya hingga beliau masuk ke Masjid dan memimpin kami melakukan shalat dua rakaat sampai matahari menyinsing. Kemudian Rasul bersabda: “Sesungguhnya terjadinya gerhana matahari dan bulan bukan karena kematian sesorang, jika kalian melihatnya maka shalatlah kalian dan berdoalah hingga selesai gerhana tersebut. (H.R.Bukhari)

Yang kedua; mengingat perintah-perintah Allah dan menanyakan kepada diri kita sejauh mana telah kita laksanakan. Sebagaimana Allah berkuasa untuk menciptakan alam dengan segala isinya dan dengan aturan yang Allah ciptakan sendiri, Allah juga berkuasa untuk memberikan balasan terbaik kepada orang-orang yang patuh dan mentaati perintah-perintah-Nya. Firman Allah subhanahu wataala:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(Q.S. Alanfal: 97).

Kita juga perlu senantiasa meyakini bahwa perintah-perintah Allah adalah bagian dari kasih sayang-Nya. Kesadaran seperti ini menjadi sangat penting disaat masih banyak kaum muslimin yang enggan menjalankan perintah wajib, bahkan untuk mengerjakan shalat lima waktu yang merupakan standar dasar keimanan seseorang. Rasulullah bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan Shalat.” (H.R. Muslim).

Jika melaksanakan perintah Allah dengan didasari perasaan cinta dan mengagungkan kebesaran Allah, maka seberat apapun perintah tersebut pasti akan terasa ringan.

Yang ketiga, mengingat ancaman Allah subhanahu wataala.
Ancaman Allah ditujukan kepada orang-orang yang tidak beriman dan tidak taat kepada Allah. Larangan Allah terhadap beberapa hal dalam kehidupan manusia sebenarnya merupakan bagian dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, karena dalam setiap hal yang dilarang pasti terdapat kemudharatan bagi manusia baik dalam kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat. Maka momentum peristiwa besar seperti gerhana matahari total seharusnya mengingatkan kita kembali untuk tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah subhanahu wataala.

Firman Allah subhanahu wataala:

  فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q.S. an-Nur: 64).

Hal ini perlu sering diingatkan kepada kaum Muslimin untuk tidak melanggar batas-batas Allah yang sudah Ia tetapkan, karena jika menyalahi perintah Allah akan diancam dengan turunnya cobaan dan siksaan yang pedih. Apalagi saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai kondisi darurat dalam berbagai sisi kehidupan; darurat narkoba, darurat kekerasan seksual terhadap anak-anak, darurat LGBT dan darurat-darurat yang lain. Jika bangsa Indonesia tidak segera sadar untuk kembali ke jalan Allah, maka kita khawatir akan turunnya adzab Allah ke bumi kita tercinta ini. Dan jika itu terjadi, maka yang akan terkena dampaknya bukan hanya orang-orang yang berdosa tapi semua penduduk negeri ini. Sebagaimana firman Allah taala:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan takutlah kalian dari siksaan yang tidak hanhya menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu saja. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Q.S ar-Anfal: 25)

(Tulisan: KH. DR. Tulus Musthofa, Lc. MA)